Terjerat Adat, Terjebak Mitos
Adat, secara sederhana, adalah kebiasaan. Semua orang, atau organisasi, dapat membuatnya. Kadang mulanya dilandasi oleh hal-hal yang rasional dan fungsional. Namun seiring berjalannya waktu dan tanpa dibarengi penjelasan akan rasionalisasi beserta asal-usulnya kepada penerus organisasi tersebut, adat dijalankan tanpa kita pertanyakan lagi.
Seperti halnya ketika makan harus dengan tangan kanan atau dilarang duduk di atas meja. Itu juga bisa disebut adat. Barangkali kita bisa merujuk kaidah agama atau adab sopan santun, tapi itu tak berarti apa-apa. Ya, dijalankan saja. Kalau dirunut terus ujung pangkalnya, kadang kita tak bisa—atau emoh—menjelaskannya.
Padahal, barangkali, norma tersebut diciptakan dari sebuah ide yang amat logis: bahwa tangan kiri itu kotor karena untuk bersih-bersih sewaktu di WC dan duduk di meja itu berbahaya karena beresiko jatuh. Contoh lainnya seabrek; mulai dari mandi dua kali sehari, larangan makan di mulut pintu, jalan mbungkuk di depan orang tua, ngasih coklat dan bunga di tanggal 14 Februari, sampai nonton Tukul saban malam.
Dalam konteks tertentu, hal itu adalah sebuah strategi kebudayaan. Agar suatu mekanisme budaya atau system dalam suatu komunitas itu dapat bekerja, sejumlah aturan, kaidah, tata tertib, harus diciptakan, dijalankan, dan diturun-temurunkan ke generasi selanjutnya. Tak jarang dengan bumbu-bumbunya: mitos atau cerita-cerita menyesatkan, juga hukuman dan ganjaran—dengan varian (dan) kadarnya. Ujungnya satu, tujuan si kreator, atau organisasi/ komunitas bersangkutan, tercapai. Budaya, kebiasaan, adat itu bukan given, bukan taken for granted, tak terberi begitu saja. Ia diciptakan dan dijaga kelangsungannya. Diproduksi sekaligus direproduksi.
Begitulah. Di Ambalan kita, adat yang “benar-benar adat” sepengetahuan saya adalah pusaka dan makan adat. Untuk pusaka adat, ia adalah bentuk “adat rangkap dua”. Karena ia muncul untuk memenuhi kelengkapan sebagai suatu komunitas atau organisasi kepramukaan. Semua atribut Pramuka pada dasarnya adalah adat, kodifikasi, tanda, yang sebenarnya tak mengacu apa-apa kecuali kita imbuhkan makna di dalamnya; tunas kelapa, badge, symbol-simbol dan aneka rupa yang mesti kita hafalkan itu…
Dan mengapa pecut, ya barangkali ini inovasi para founding fathers Ambalan Soeringgit saja. Karena toh kalau saat itu yang dipakai sebagai senjata adat adalah clurit, keris, atau cuma blandringan sekalipun tak apa-apa. Sah!
Terkait pisang goreng dan bubur hijau, syahdan itu adalah snack favorit kakak kita tercinta, (Alm) Soeringgit, yang dinikmatinya saban pagi sembari menyeruput kopi. Mungkin, kalau tak ribet dan ada sesi minum adat, kopilah yang bakal kita suguhkan setiap pelantikan atau di kala bakar-bakar prabadge itu.
Selanjutnya, muncullah “adat-adat artifisial” oleh angkatan berikutnya (tanda kutip, karena semua adat pada dasarnya adalah artifisial). Lari adat, trap hitam, sanggar haram dimasuki, dan lain sebagainya. Tentu kita harus melihat rasionalisasi dan konteks kelahiran adat-adat ini. Sayang, entah sengaja atau tidak, informasi tentang itu semua berceceran atau tereduksi—kalau enggan disebut raib sama sekali. Maka, beberapa di antaranya kini masih dianggap sakral dan angker.
Tapi, saya yakin semuanya logis dan didasari untuk “kebaikan” Ambalan atau Korps. Cuman, “kebaikan” inilah yang memunculkan perbedaan persepsi. “Baik” menurut penggagas adat—dalam hal ini “kakak kelas” atau angkatan atas—belum tentu “baik” menurut si penjalan adat, yakni adik kelas. Saya kurang tahu apakah ketika adat-adat itu lahir, juga digodok dan dioperasionalkan—menyelaraskan persepsi, berbagi alasan dan masukan, juga menjalankannya secara konsekuen—bersama adik kelas.
Jika kelak hal ini menjadi blunder, itu karena jika ada yang mengganjal sejak awal adat tersebut diberlakukan, ia sebatas menjadi grundelan. Tak ada yang sedari awal mempertanyakannya, apalagi membongkarnya ketika ganti ia yang memegang kuasa atas adat. Atau, barangkali ini karena aktivitas itu sendiri telah menggunakan embel-embel adat. Alasan ini sebetulnya sama piciknya dengan lontaran, “Karena itu sudah jadi adatnya..” Lalu, yang terjadi adalah vicious circle kepandiran dan ketakutan…Turun temurun!
Adat pusaka cambuk dan pisang goreng dan bubur itu tak memberatkan. Di samping itu, ia produk para tetua Ambalan kita. Melanggengkannya adalah sebentuk penghormatan, bukan penyakralan atau pemitosan. Maka, kalau mau adat itu awet sampai anak-cucu, buatlah adat yang bisa diterima dan dijalankan oleh semua. Itu menjadi bentuk penghormatan tersendiri, bagi adat dan penggagasnya, saat itu dan sesudahnya. Seterusnya.
Mitos-mitos tak akan membawa kita ke mana-mana…Namun ia mesti selalu ada, di sekitar kita, di mana-mana. Karena kita, manusia-manusia yang bandel ini, butuh suatu tata—yang aneh sekalipun. Bukannya semakin rasional manusia, kian irasional solah tingkahnya?
Sanggar
Kesannya kumuh. Singup! Tapi ruangan tak seberapa luas itu sanggup bikin kita guyub. Ketika malas pulang, kala latihan atau merancang mosing, hingga untuk cabut, sanggar jadi tempat pilihan.
Pernah jadi tempat yang wingit dan sangar, membuat sanggar punya banyak cerita. Bukan cuma adu berani bertandang ke sana ketika masih riuh oleh kakak kelas, tapi juga jadi uji nyali menginapinya saat malam hari. Konon, sanggar yang letaknya di sudut kompleks sekolah kita itu, bersisian dengan sumur yang sarat dengan gas mematikan.
Sohibul hikayat pula, liang itu merupakan terowongan yang tembus ke Lawangsewu dan kompleks SMU 1. Pasti kalau difilmkan, urban legend kita ini dengan gampang akan menumbangkan perolehan tiket Terowongan Casablanca atau Bangku Kosong. Persis di selatannnya, terdapat tanjakan gerbang belakang, yang syahdan jadi penguburan rangka-rangka serdadu Jepang yang mati dibantai.
Sayang, uji nyali keburu tak tayang lagi. Padahal, syarat untuk menjadi lokasi acara itu, sebenarnya sudah terpenuhi! Meski kita terdiri dari puluhan orang dan sudah ada seksi sanggar, markas kita ini tetaplah terbengkalai. Di pojok-pojoknya bersawang. Sinar matahari kurang—apalagi ketika jendela dan pintu haram untuk dibuka. Perabotannya juga tak terurus, mulai dari piala, tambang, hingga tumpukan map di lemari. Debu di mana-mana. Barangkali, selain kita dan para lelembut, sanggar juga nyaman untuk sarang kuman penyakit. Untungnya, belum ada yang sakit karena kelamaan ngendon di sanggar(?).
Lain cerita kalau hujan. Sanggar jadi kian suram—bayangkan ketika mendung tebal seraya gludhuk dan petir bersahutan, tapi sanggar tetap gelap, lampu di dalam dan sekitarnya tak dihidupkan, sementara bentakan-bentakan lantang memekakkan telinga. Apalagi saat satu-dua di antara kita didaulat ke dalamnya, di mana terdapat beberapa orang kakak kelas sudah bersiap di sana.
Ketika mosing sedang puncak-puncaknya—kala even-even khusus di luar latihan rutin, banyak “korban” bergelimpangan dan sanggar jualah satu-satunya tempat menampung para “pesakitan”. Di tengah kalang kabut adik kelas yang kena mosing dan kekalutan kakak kelas yang panik karena adik kelasnya banyak yang semaput, sanggar pun jadi bangsal darurat. Mereka yang pingsan dibaringkan berjajar. Mirip pindang. Erang kesakitan bercampur dengan bau kaus kaki basah dan kayu putih atau balsem. Beberapa sesenggukan. Di luar, amarah dan hujan kian menjadi. Sanggar tetap diam. Menerima kita dalam dinding-dindingnya yang lusuh dan dingin.
Dalam kondisi cuaca seperti itu, gentengnya yang tua dan berlubang memudahkan air hujan nrocoh ke dalam sanggar. Air juga merembes dari dinding triplek sisi utara yang berbatasan dengan gudang meja-kursi yang terbengkalai. Sanggar pun lembab. Anyep.
Sampai suatu ketika sanggar kena banjir. Perabotannya pun perlu direstorasi selama beberapa hari—kebanyakan dengan dijemur, terutama tali tambang. Itulah sebabnya batas di pintu sanggar kemudian ditinggikan dengan semen tambahan.
Kembali ke soal berbau horor—cerita satu ini karena disebut dalam postingan teman. Syahdan, di sanggar juga sempat muncul penampakan. Wujudnya, saya tak tahu persis. Tapi konon beberapa saksi mata menyebutkan, si makhluk memba-memba atawa menjelma ke dalam wujud salah seorang rekan kita. Mungkin asyik juga kalau kala itu digelar acara Aspal! Asli apa palsu; mana yang hantu, mana yang orang! Wallahualam bishawab!
Ah, kurang afdol kalau kita tak mempreteli atau mengupas sisi melik sanggar satu per satu. Mari mulai dari pintu! Tak sembarang orang bisa membukanya. Hanya mereka yang mengimani dan mengamini sanggar sebagai “rumah”nyalah yang sanggup menjebol portal sederhana tapi merepotkan ini. Setelah kunci dibuka, pegangannya diputar sembari pintu diangkat sedikit. Lalu tarik! Sebetulnya gampang, tapi banyak juga yang kesulitan membukanya. Kunci sanggar juga sering kali diganti-ganti. Pernah suatu kali, sanggar digembok dengan kunci sepeda.
Selain pintu, sanggar juga bisa dimasuki lewat jendelanya. Ini malah tak butuh kunci. Cukup dengan menyelipkan tangan ke balik satu papannya yang nyarisnya lepas, kita dapat menggeser pengait untuk pembuka jendela.
Di dalam sanggar, ada banyak perkakas. Yang paling legendaries mungkin tambang. Bukan milik kita, dan pernah timbul sengketa kepemilikannya. Tambang ini haram untuk diinjak—mengurangi umurnya, begitu alasannya—dan wajib dibawa ketika ke Bantir.
Selain tambang, tentu ada lemari, dengan berbagai kertas-kertas, map tuanya, dan kotak adat, serta atribut pramuka yang sudah bau (tali komando, hasduk dan topi—yang jadi rebutan waktu banyak dari kita tak bawa saat latihan …), piala-piala sejak jaman baheula di meja kayu di sudut sanggar, tongkat-tongkat besi milik panji—yang dipakai sekali (?) sewaktu demo—juga tongkat bambu sisa latihan tulang braja, papan tulis yang bolong, lukisan-lukisan yang enggak pernah diganti—entah siapa yang bikin, baskom aluminium steel yang klasik itu (buat kreamtorium prabadge dan penghangat, yang akhirnya berlubang), tikar-tikar yang koyak moyak, TOA, dan….
“Modernisasi” bukannya tak pernah menyentuh sanggar. Seorang kawan pernah menghibahkan tape-deknya untuk jadi koleksi sanggar. Tapenya kecil dan sudah rusak. Penutup kasetnya lepas. Tapi fungsinya tak kurang, dan bahkan amat menyemarakkan sanggar. Teman setia nongkrong di sanggar selepas sekolah.
Sssst, ini catatan pribadi. Karena tape inilah, saya punya soundtrack abadi hingga kini. Dari seorang rekan awak KS, saya dipinjami sebuah kaset yang saya putar pada tape di sanggar ini. Kini, saban saya mendengar sejumlah lagunya, benak saya langsung terdampar di sanggar, pada suatu senja, bersama seseorang. Ah!
Setelah suatu kegiatan—entah GPLA, entah GPLB, entah yang lainnya—tape itu raib entah ke mana.
Rumah
Surat tak mencukupi. Kata-kata pun akan tampak datar dan hambar. Michael Bubble, ketimbang menyambangi Paris atau Roma, memilih pulang ke rumah. “I want to go home,” begitu nyanyinya yang ngelangutkan itu.
Saya mencari padanan kata “home” dalam bahasa Indonesia. Rumah? Barangkali kata ini yang paling mendekati, tapi kata ini juga sangat rancu dengan “house”.
Rumah, bukan sebagai konstruksi material; semen, bata, genteng, dst-nya, melainkan sebagai atmosfer, ranah, matra, di mana keluarga, orang-orang yang terbuhul karena ikatan darah bertemu, bersekutu, serta sesekali berseteru.
Di rumah pula saya mulai membangun imaji tentang segala sesuatu “di luar rumah”, yang pada akhirnya, imaji-imaji itu akan mengajak kita bertolak dari rumah, sekaligus menolak rumah. Imaji yang hanya ada di luar rumah.
Imaji itu adalah Hidup, Kehidupan—dengan H atau K, sesuatu yang (dalam imaji saya) asing, penuh gejolak, tak mudah ditebak. Dan saya dengan angkuh akan menurutkan imaji itu, mencarinya, membuktikannya, menaklukkannya. Menaklukkan imaji berarti menelusuri pribadi. Menaklukkan imaji berarti menyingkirkan sangsi. Menaklukkan imaji berarti mendaku diri. Gagah. Pongah. Tapi ternyata, kelak itu menjadi amat gegabah.
Tanah rantau, sedekat apapun, akan meletikkan jarak dari rumah dan memintasi jarak dengan imaji-imaji itu. Maka, bergegaslah, berkemaslah saya menuju terra incognita—tanah tak bertuan di perantauan (setidaknya saya belum menjadi “tuan” di sana). Dan rumah pun (beserta saya yang ada di rumah dulu) jadi kelihatan kecil, terkucil, sepele.
Rantau pun kemudian jadi amat seksi dan lebih eksis ketimbang rumah. Seolah-olah di sinilah dunia, hidup, kehidupan itu sendiri. Ketika berada di rantau seakan-akan kita telah cukup jumawa mendaku diri sebagai sosok mandiri, berdikari, teruji, heroik.
Meski kemudian rantau tetaplah rantau. Ia cuma persinggahan. Ia bukanlah muasal dan muara rerasa kita. Rantau adalah ruang artificial, tempat gincu dipoles dan pantofel akan selalu kita kenakan. Dan keringat serta syahwat—dengan segala bentuknya—pun jadi kawan akrab. Ia jeda panjang, dan di rantau kita akan selalu sambat, berkesah—dengan suara parau.
Kita jera, meski tak pernah mengaku jera padanya. Dan itu seolah setimpal dengan segepok buntalan oleh-oleh yang kita bawa, buah bibir yang menggunjingkan kita kuliah atau sudah “jadi orang” di tanah orang, di perantauan. Heboh yang cuma bisa ditemui ketika kita pulang ke rumah.
Rumahlah tempat kita kembali. Rumah ternyata menggugurkan imaji-imaji besar itu. Imaji-imaji yang ternyata terbangun lantaran ketidaksanggupan kita (saya) menghadapi realita, dinamika, dan dilema-dilema dalam sebuah rumah. Dan penolakan kita atasnya melahirkan eskapisme untuk keluar dari rumah, mencari yang ada “di luar rumah”.
Rumah jadi tak menarik dan tak asing, padahal kitalah yang mengasingkan dan menarik diri dari hirukpikuknya. Rumah seolah tanpa gejolak, padahal kitalah yang tak piawai mengendus dan mengelola gejolak itu. Rumah seakan tak mampu merawat dan mendewasakan kita, meski nyatanya kitalah yang menafikan kedewasaan itu—dengan membangun imaji-imaji itu tadi. Rumah yang mulanya kita bayangkan remeh, tanpa kita sadari menjadi wahana menemukan hidup, kehidupan, atau dunia itu sendiri.
Kita rupanya amat ringkih untuk terus menampik rumah. Sesuatu yang tak berjarak ternyata acap membuat kita naïf dan kufur.
tanpa penghormatan, bubar jalan….
Tambahan? Siap! Tambahan…
Selamat tahun baru 1428 Hijriah!
Selamat berakhir pekan.
Kalau pulang ati-ati..
Jangan lupa, semangkuk es dawet atau mie ayam bedagan.
Cukup? Cukup. Cukup. Cukup
Bubarkan. Siap, bubarkan.
Tanpa penghormatan, bubar jalan!
Tu, mpat, sembilan. Soeringgiiiiiittt!
Mars KS
korps soeringgit satu empat sembilan
pasukan kebanggaan kita
pramuka pangkalan SMU 3
mengemban tugas mulia
bersatu berkarya dan berbakti
menjunjung pancasila
dasa dharma pedoman sejati
pegang teguh trisatya
bersatu padu setia bersama
berkarya wujudkan cita
….. (dua baris ini aku lupa
)
….. (dua baris ini aku lupa
)
korps soeringgit jayalah slamanya
*seingatku gini deh. bener nggak ya?
ada apa dengan KS
nggak tau kenapa, belakangan ini aku males denger vocabulary KS, mungkin gara2 insiden di milis (yang akhirnya aku unsubscribe juga). nggak tau kenapa aku nggak suka berada di antara orang-orang itu dengan segala pemikirannya, apalagi orang itu, mboh siapa namanya n angkatan berapa dia. muna aja ngerasanya.
tiba2 kemarin koes online di YM, pas itu aku kesepian di kantor coz orang2 lagi pada ‘muter’ semua. trus dia request bikin milis sama blog buat angkatan 7 (lulusan 2003) . klo buat angkatan 7 si ayo, klo buat KS, nggak deh, no thanks.
waktu itu karena koneksi internet speedy yang lagi peak-time, cuma dapet milis, visit aja di homepage-nya. jadi inget, sebelumnya juga invite member buat milis ex-IPA7 aka impromptu. setelah liat2 fiturnya wordpress, koq tergiur ya? akhirnya pindah blog ni, dari blogspot ke wordpress.
lah, koq malah ngelantur???
ya ntar rencananya blog ini diisi bareng2, digarap bareng, tinggal nunggu aja..
Friday I’m in Rush….uh!
Jumat siang…Saatnya siap-siap. Setelah Jumatan dan menyempatkan melepas penat sesaat di kantin, kami pun mulai menghitung. Menghitung jam. Menghitung berapa lama lagi latihan dimulai. Menghitung kawan-kawan yang datang. Menghitung berapa banyak yang lagi yang mesti datang.
Ya, jam beringsut menuju pukul 2 siang dan sebentar lagi latihan rutin akan dimulai. Di kelas 1-2, di bawah tangga, konsolidasi dilakukan. Kelengkapan Beberapa kawan, terutama koordinator utama dan para korin, tampak cemas. Maklum, instruksi kakak kelas mesti dipenuhi. Mulai jumlah yang hadir sampai materi minggu lalu yang harus sudah dikuasai. Teman-teman yang lain tetap santai. Beberapa cuek. Tapi semua coba tetap semangat…yah meski Jumat ini, seperti Jumat-jumat sebelumnya, dan Jumat-jumat yang akan datang–setidaknya sampai menggantikan posisi kakak kelas, akan terasa amat panjang siang ini hingga petang nanti.
Blog Baru…
atas permintaan (baca: perintah) mantan pradana angkatan 7 : arief koes hermawan, akhirnya blog ini lahir…
Leave a Comment