Friday I’m in Rush….uh!

Jumat siang…Saatnya siap-siap. Setelah Jumatan dan menyempatkan melepas penat sesaat di kantin, kami pun mulai menghitung. Menghitung jam. Menghitung berapa lama lagi latihan dimulai. Menghitung kawan-kawan yang datang. Menghitung berapa banyak yang lagi yang mesti datang.

Ya, jam beringsut menuju pukul 2 siang dan sebentar lagi latihan rutin akan dimulai. Di kelas 1-2, di bawah tangga, konsolidasi dilakukan. Kelengkapan Beberapa kawan, terutama koordinator utama dan para korin, tampak cemas. Maklum, instruksi kakak kelas mesti dipenuhi. Mulai jumlah yang hadir sampai materi minggu lalu yang harus sudah dikuasai. Teman-teman yang lain tetap santai. Beberapa cuek. Tapi semua coba tetap semangat…yah meski Jumat ini, seperti Jumat-jumat sebelumnya, dan Jumat-jumat yang akan datang–setidaknya sampai menggantikan posisi kakak kelas, akan terasa amat panjang siang ini hingga petang nanti.

Barisan disiapkan. Satu dari kami maju ke depan, memberi aba-aba. Masing-masing menata diri. Acakadut. Tinggi tak urut. Susunan belum rapi. “Luruskan!” Masih mencong. Geser dan ubah posisi. Lumayan. Sikap sempurna yang tak (pernah) sempurna pun akhirnya diinsafi sebagai performa terbaik. Ketimbang acara lebih molor.

Berhitung. Satu, dua, tiga, dst-nya… “Kurang satu!” seorang di ujung belakang berseru. Kesalahan versi kakak kelas mulai meletup. “Ulangi!” komando direbut seorang kakak kelas. Kanopi mulai terasa gerah. Hitungan berlangsung sekali lagi. “Berapa yang datang, Dik?” salah seorang dari kakak kelas, yang ada di depan, di atas trap hitam pendopo sekolah kami yang keramat itu, bertanya. Lengang sekejap. “Berapa?” ulangnya. Tanyanya yang keras kami tangkap sebagai bentakan. Muka kami mulai (sok) serius.

Satu dari kami menjawab. Grogi. Suara kawan putri kami itu bergetar. Tapi yakin. Tak banyak kawan yang datang memang. Tak sesuai harapan. Dan pastinya tak memenuhi permintaan kakak kelas saat latihan jumat lalu. Banyak yang beralasan, tapi lebih banyak yang tanpa pemberitahuan. Tebak-tebakan tentang konsekuensi yang bakal kami terima, melayang-layang di pikiran.

Fyuh…Terik makin mencekik leher kami yang sudah ketat oleh setangan-leher; hasduk yang haram kena tanah itu. “Langsung saja,” kata sang komando tadi. Barisan di hadapkan kanan. “Yang putri jangan ditinggal, Dik!” perintah mulia itu tetap saja bikin jengah. Lalu iring-iringan coklat itu pun mengitari tiang bendera–tetap dalam bentuk barisan. Drap, drap, drap…sesekali terdengar celoteh kesal, juga beberapa cuil umpat yang tertahan. “Waduh, wetengku suduken ik,” kata seorang kawan bertubuh tambun. Larinya gleyat-gleyot. Dari jauh, beberapa pasang mata mengawasi. “Langsung ke belakang, Dik!” terdengar suara lantang dari arah mereka.

Jegleeer…. ! Komando itu seperti sambaran AdamAir yang hendak tersuruk di atas kepala kami. Toh itu cuma dirasakan sebagian (besar?) di antara kami. Beberapa wajah masih mesam-mesem, tapi tetap dengan mimik kecut. “Mo..singngngng! ” suara bersin menyahut dari belakang barisan. Yah, itulah istilahnya kalau sudah menyebut-nyebut “belakang”. Artinya: depan sanggar, dan di sanalah killing fields itu terjadi. Riuh. Acapkali ricuh. Sesekali berakhir rusuh.

Dan setelah putaran terakhir, kami pun berlari ke sana. Dengan langkah gontai.

Nb. Bukan closed ended setori. Silakan ditambahi. Bila mengacu karakter tertentu, mohon diikhlaskan. Itu semata-mata berpangkal dari daifnya ingatan saya.

No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.