Rumah

Surat tak mencukupi. Kata-kata pun akan tampak datar dan hambar. Michael Bubble, ketimbang menyambangi Paris atau Roma, memilih pulang ke rumah. “I want to go home,” begitu nyanyinya yang ngelangutkan itu.

Saya mencari padanan kata “home” dalam bahasa Indonesia. Rumah? Barangkali kata ini yang paling mendekati, tapi kata ini juga sangat rancu dengan “house”.

Rumah, bukan sebagai konstruksi material; semen, bata, genteng, dst-nya, melainkan sebagai atmosfer, ranah, matra, di mana keluarga, orang-orang yang terbuhul karena ikatan darah bertemu, bersekutu, serta sesekali berseteru.

Di rumah pula saya mulai membangun imaji tentang segala sesuatu “di luar rumah”, yang pada akhirnya, imaji-imaji itu akan mengajak kita bertolak dari rumah, sekaligus menolak rumah. Imaji yang hanya ada di luar rumah.

Imaji itu adalah Hidup, Kehidupan—dengan H atau K, sesuatu yang (dalam imaji saya) asing, penuh gejolak, tak mudah ditebak. Dan saya dengan angkuh akan menurutkan imaji itu, mencarinya, membuktikannya, menaklukkannya. Menaklukkan imaji berarti menelusuri pribadi. Menaklukkan imaji berarti menyingkirkan sangsi. Menaklukkan imaji berarti mendaku diri. Gagah. Pongah. Tapi ternyata, kelak itu menjadi amat gegabah.

Tanah rantau, sedekat apapun, akan meletikkan jarak dari rumah dan memintasi jarak dengan imaji-imaji itu. Maka, bergegaslah, berkemaslah saya menuju terra incognita—tanah tak bertuan di perantauan (setidaknya saya belum menjadi “tuan” di sana). Dan rumah pun (beserta saya yang ada di rumah dulu) jadi kelihatan kecil, terkucil, sepele.

Rantau pun kemudian jadi amat seksi dan lebih eksis ketimbang rumah. Seolah-olah di sinilah dunia, hidup, kehidupan itu sendiri. Ketika berada di rantau seakan-akan kita telah cukup jumawa mendaku diri sebagai sosok mandiri, berdikari, teruji, heroik.

Meski kemudian rantau tetaplah rantau. Ia cuma persinggahan. Ia bukanlah muasal dan muara rerasa kita. Rantau adalah ruang artificial, tempat gincu dipoles dan pantofel akan selalu kita kenakan. Dan keringat serta syahwat—dengan segala bentuknya—pun jadi kawan akrab. Ia jeda panjang, dan di rantau kita akan selalu sambat, berkesah—dengan suara parau.

Kita jera, meski tak pernah mengaku jera padanya. Dan itu seolah setimpal dengan segepok buntalan oleh-oleh yang kita bawa, buah bibir yang menggunjingkan kita kuliah atau sudah “jadi orang” di tanah orang, di perantauan. Heboh yang cuma bisa ditemui ketika kita pulang ke rumah.

Rumahlah tempat kita kembali. Rumah ternyata menggugurkan imaji-imaji besar itu. Imaji-imaji yang ternyata terbangun lantaran ketidaksanggupan kita (saya) menghadapi realita, dinamika, dan dilema-dilema dalam sebuah rumah. Dan penolakan kita atasnya melahirkan eskapisme untuk keluar dari rumah, mencari yang ada “di luar rumah”.

Rumah jadi tak menarik dan tak asing, padahal kitalah yang mengasingkan dan menarik diri dari hirukpikuknya. Rumah seolah tanpa gejolak, padahal kitalah yang tak piawai mengendus dan mengelola gejolak itu. Rumah seakan tak mampu merawat dan mendewasakan kita, meski nyatanya kitalah yang menafikan kedewasaan itu—dengan membangun imaji-imaji itu tadi. Rumah yang mulanya kita bayangkan remeh, tanpa kita sadari menjadi wahana menemukan hidup, kehidupan, atau dunia itu sendiri.

Kita rupanya amat ringkih untuk terus menampik rumah. Sesuatu yang tak berjarak ternyata acap membuat kita naïf dan kufur.

1 comment so far

  1. [...] email ke milis alumni suatu organisasi yang dulu saya ikuti sewaktu SMU, yang kemudian saya post ke blog kami (atas nama dia tentunya). isinya tentang rumah. home, not house. tentang bagaimana kita [...]


Leave a reply

You must be logged in to post a comment.